Minke yang menceritakan ceritera BUMI MANUSIA?

Silahkan membaca kembali halaman pertama BUMI MANUSIA. Membaca kembali dan merenungkannya. Ada rahasianya. Mau tahu rahasianya: terpaksa anda mencari lewat membaca RUMAH KACA.  (Disini tidak saya pasang spoiler.)

Rahasia lainnya bisa ditemukan di buku INDONESIA TIDAK HADIR DI BUMI MANUSIA.

BTW: Versi bahasa Inggeris BUMI MANUSIA – yaitu THIS EARTH OF MANKIND bisa didapat di Indonesia di toko buku Periplus di berbagai kota Indonesia.

Naluri Pramoedya Ananta Toer sebagai pengarang roman sejarah

Dengan mengedit sedikit kata-kata filosof dan kritikus sastera, Georgi Lukacs ketika dia menulis tentang roman sejarah sebagai sebuah genre sastera, saya mau komentar thdp novel P.A.T. Bumi Manusia, yaitu bahwa novelnya adalah sebuah “product of realistic instinct and [and also] a  clear understanding of history as a process, of history as the concrete precondition of the present.” Yaitu Bumi Manusia adalah sebuah produk naluri realistis pengarangnya sekaligus pengertian jelas bahwa sejarah adalah sebuah proses, sejarah adalah pra-syarat konkrit yang menyiapkan situasi kondisi sekarang.”

Bumi Manusia dan ketiga novel berikutnya adalah bacaan wajib untuk bisa mengerti Indonesia sekarang.

 

Cover Pram 1

Menulis mencipta Indonesia dan Pramoedya Ananta Toer

““Banyak pesan yang terdapat dalam karya-karya Pramoedya yang terinspirasi dari RA Kartini. Pramoedya melihat Kartini sebagai pemikir zaman pencerahan Indonesia. Dalam karya-karya Pramoedya, terkandung pesan-pesan seperti kebangkitan nasional Indonesia di era 1920-an,” kata Max Lane.”

Baca disini.

Max and Pramoedya 1981

New essay (working draft): Indonesia: 1965 and the Counter-Revolution against the Nation.

Indonesia:  1965 and the Counter-Revolution against the Nation.

By Max Lane

+++

“The impact of the counter-revolution was, however, even deeper than the sum of these combined policies – from mass murder and terror to totalitarian imposed ignorance and passivity. The 1965 counter-revolution was a pre-emptive purge aimed at the prevention of the final unfolding and completion of the revolutions that were brewing: a national revolution as well as a social revolution.”

+++

Indonesia is the fourth most populous country in the world, of immense geopolitical strategic importance straddling the sea and air lanes between the Indian and Pacific oceans, and with substantial mineral resources. Yet today, and for the last 50 years, its international political presence has been almost zero, including on the Left. The primary reason for this is the 1965 counter-revolution in Indonesia and the consequent radical remaking-cum-unmaking of the country, the nation. On the one hand this counter-revolution produced an Indonesian state and economy that posed no threat to either western or Japanese imperial economic or geo-political interests, and on the other a society whose new post-counter-revolutionary experience would emasculate any progressive class fightback for decades, even until now, and thus also its intellectual and cultural life.

Continue reading “New essay (working draft): Indonesia: 1965 and the Counter-Revolution against the Nation.”