About Aini Chalid

In Memoriam: Aini Chalid

8 February, 2007

In late January 2007, Aini Chalid passed away in Manila, the Philippines during a heart operation. Aini was a close friend since 1973.

Aini Chalid was one of three people put on trial by the Suharto regime in 1974-75 following the so-called MALARI incident. Aini was a student at Gajah Mada University in 1973-74, one of its best political science students. He was a key figure inhelping produce the first dissident newspaper under the New Order, called Sendi, and one of the most actice students on the ground during the wave of protests against dependence on foreign aid and against political authoritarianism in this period. HE was captured bythe New Order security apparatus in mid 1974 following Suharto’s repression of the student movement in January, 1974.

Aini close up.JPG
Aini Chalid

His trial was notable due to tge fact that he refused to be accompanied by a lawyer, stating that the whole affair was a political and nota legal act. He ended his defence at the end of his trial by withdrawing all statements he had made and declaring thatthe trialwas a political drama masterminded by Suharto’s Special Operations man, Ali Murtopo. His final defenc please lasted one minute. He was released after serving 3-4 years in gaol.

Below I print the Indonesian language speech read out on my behalf, by my partner Faiza, at the commemoration event held for him, organisded by Hariman Siregar, in the Jakarta Media Centre on 27 January, 2007

In Memorium Aini Chalid:

Bicara demokrasi blak-blakan

Saya menerima SMS jam 1 pagi dengan berita meninggalnya sdr Aini Chalid di Manila. Terkejut betul. Saya sudah kenal Aini sejak tahun 1972 dan orangnya selalu sangat bergairah dan rohnya hidup dan bergulat. Sulit membayangakannya tidur dan tidak bangun. Atau mungkin juga dia akan gelisah-gelisah menonton apa yang kami yang masih di bumi ini terus melakukan.

Saya pertama bertemu dengan Aini di diskusi-diskusi yang sering dijalankan di rumah W.S. Rendra di Ketanggungan, Jogjakarta tahun 1972. Kita cepat menjadi teman diskusi. Saya suka tajam dan blak-blakannya. Sering kami ketemua di warung-warung untuk berbincang-bincang panjang lebar tentang situasi Indonesia, ketergantungannya pada modal asing dan hutang dan repressi politik kediktatoran Orde Baru. Pada waktu itu kami berdua masih sangat muda, berdua mahasiswa, tetapi yang duluan maju sebagai aktivis adalah Aini.

Aini terjun di gerakan mahasiswa tahun 1973 di Jogjakarta dan juga sering berkunjung ke rapat-rapat di Jakarta. Dia menjadi bagian dari kelompok mahasiswa dan intelektual muda, termasuk Daniel Dhakidae dan Ashadi Siregar, yang terbitkan majalah SENDI. SENDIpun perlu dicatat dalam sejarah perlawanan terhadap Orde Baru – surat kabar opertama yang kritik dan yerang pemerintahan Orde Baru tak peduli basa-basi.

Dari Juli 1973 sampai Januari 1974 terjadi demonstrasi mahasiswa dan pemuda hampir setiap hari di berbagai kota. Ini semua memuncak dengan demonstrasi di Jakarta ketika kedatangan Perdama Menteri Tanaka dari Jepang. Gerakan mahasiswa, termasuk Aini, mempersoalkan dampak penjajahan dari modal asing dan hutang dan juga menuntut penghapus jabatan Asisten Pribadi Presiden. Pada saat demonstrasi mahasiswa memuncak, meledak kerusuhan massa. Ini terjadi di lain kawasan Jakarta daripada demonstrasi mahasiswa dan tidak berhubungan dengan mereka, tetapi mereka yang dituduh menyebabkannya. Dengan alasan mengakibatkan kerusuhan dan membuat makar ratusan mahasiswa dan beberapa intellektual ditangkap.

Aini Chalid juga dicari tetapi menolak menyerahkan diri begitu saja. Dia bertahan menikmati kebebasan selama beberapa bulan sesudah penangkapan-penangkapan aktivis dan politikus lain. Tetapi pada akhirnya ketangkap juga (beserta surat-menyurat pribadi kami berdua.)

“Ini sandiwara!”

Aini termasuk diantara tiga figur MALARI yang diadili. Selain Aini, Hariman Siregar dan Syahrir juga diadili. Kasus pengadilan Aini berkembang agak lain. Pertama, dia menolak ditemani pengacara dengan alasan bahwa yang sedang terjadi bukan proses hukum melain proses politik.

Kedua, sikap ini memuncak ketika Aini harus sampaikan pidato pembelaan terakhir dia di pengadilan. Ternyata hanya satu kalimat. Saya lupa kata-kata persisinya tetapi saya selalu ingat jiwanya. Saya berada di ruang pengadilan pada waktu itu. Kira-kira: “Pengadilan ini hanya sandiwara untuk membela kekuasaan yang diatur oleh Ali Murtopo.” Sudah, selesai. Kebenaran ketangkap dalam satu kalimat yang berlangsung kurang dari satu minit. Saya masih ingat keheranan para jurnalis, termasuk mereka yang karena terlambat sedikit tak sempat dengar sehingga bergerombal di luar ruang meminta pegawai pengadilan untuk mengulang kembali rekamannya.

Pada akhirnya Aini juga harus menjadi tamu negara Orde Baru selama beberapa tahun. Sesudah bebas di bekerja sebagai wartawan untuk surat kabar Jepang. Pada tahun 1980an situasi politik sudah berbeda, Aini pindah ke Singapura kemudian ke Manila untuk membuka usaha bersama isterinya, Vicki, seorang pengusaha Filipina.

Tetap Aini tak pernah lupa pada Indonesia dan sejarah perjuangannya. Ketika mahasiswa mulai bangkit kembali pada awal tahun 1990an, adalah Aini yang ikut menfasilitasi berdirinya majalah PROGRES yang beredar dikalangan aktivis radikal pada tahun 1991-1992. Pada waktu kepresidenan Gus Dur, ketika dia lihat ada kemungkinan perubahan, dia balik ke Jakarta untuk ikut serta.

Adalah sudah beberapa tahun saya tidak ketemu dengan Aini yang tinggal di Manila itu. Tetapi dia adalah satu bagian penting dari perjalanan saya menjadi kenal dengan Indonesia. Perjalanan hidup kita semua sangat penuh variasi dan berbeda-beda, begitu juga Aini. Tetapi sumbangan dia terhadap jiwa perlawanan mahasiswa dan aktivis Indonesia sepantasnya dicatat dan tidak dilupakan. Di zaman ketika semua orang bicarakan “apa yan taktis, ya?” contoh “ke-blak-blak-an” Aini menghadapi pengadilan perpanjangan kekuasaan pada waktu itu bisa menjadi peringatan tentang betapa menyegarkan mendengar orang bicarakan kebenaran tanpa basa-basi.

Saya akan merasa kehilangan seorang Aini ini. Saya kirimkan salam belasungkawa saya pada isterinya di Manila dan keluarganya. Semoganya namanya tak akan hilang dari sejarah perjuangan demokrasi Indonesia.

Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: