SAJAK: Pejalanan Meninggalkan Jakarta pakai Taksama Pagi

Sepanjang keluar dari Jakarta sumpek-sumpek rumah di pinggir rel
Realitas sudah menjadikan lingkungkan tak lebih dari sebuah sel
Kemiskinan bekerja sebagai sipir yang menjaga ketat
Kereta api lewat menuju tempat yang lebih indah, hati hanya tambah kesumat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s