SEDIKIT CERITA – “Ingatan Revolusi, Aksi Masa dan Sejarah Indonesia” – UNFINISHED NATION

“Ingatan Revolusi, Aksi Masa dan Sejarah Indonesia” – UNFINISHED NATION
 
Sedikit cerita.
 
Dengan dicetaknya edisi ketiga bukuku UNFINISHED NATION, kami merubah pemunculan judul buku.
Seperti bisa dilihat dalam versi edisi bahasa Inggeris yang terbit duluan, judulnya ialah: UNFINISHED NATION: Indonesia Before and After Suharto.
 
Kalau edisi perdana bahasa Indonesia judulnya BANGSA YANG BELUM SELESAI: Indonesia Sebelum dan Sesudah Suharto.
 
Edisi kedua judulnya UNFINISHED NATION: “Ingatan Revolusi, Aksi Masa dan Sejarah Indonesia”.
Edisi cetakan ketiga ini tag line: “Ingatan Revolusi, Aksi Masa dan Sejarah Indonesia” justeru dibesarkan dan UNFINISHED NATION dibawah.
165624513_10222216198327837_8739417645844282950_n
 
Seberanya saat aku majukan karya ini ke penerbit Verso tahun 2007 judul yang saya anjurkan ialah “Mass Action, Memory of Revolution and Indonesian History”. Judul ini ditolak oleh VERSO dengan argumentasi kurang jitu dalam menarik perhatian pembaca yang rata-rata akan tidak tahu apa-apa tentang Indonesia. Perlu judul yang lebih menarik dan accessible, kata mereka.
 
Sesudah banyak ping-pong, yang disepakati ialah “Unfinished Nation: Indonesia Before and After Suharto.” Seingat saya istilah “Unfinished Nation” datang dari orangnya penerbit dan bukan saya. Tetapi bagaimanapun juga saya harus menyetjuinya. Apakah saya memang berpendapat bahwa Indonesia adalah sebuah “unfinished nation”?
Sesudah saya banyak renungkan ternyata pengertian saya tentang nasion/bangsa itu diperkaya. Rujukan utama adalah kesimpulan Sukarno yang dia sering sampaikan termasuk sampai tahun 1965. Menurut Sukarno “nation-building” maupun “character-building” belum selesai, belum tuntas. Rumusan lainnya ialah bahwa revolusi – revolusi nasional – juga belum selesai. Sesudah memikirkan kesimpilan Sukarno ini, harus saya tanya apakah selama Orde Barunya Suharto revolusi nasional jadi selesai, jadi tuntas?
unfinished
 
Jawabanku sendiri ialah tidak sama sekali. Justeru Orde Baru menjalankan kontra-revolusi terhadap revolusi nasional dan merupakan rejim anasional. Kedaulatan ekonomi diserahkan. Ingatan sejarah nasional dihapus dan didistorsi. Sastra nasional tidak diajarkan lagi sehingga memperlemah ingatan kebangsaan. Dan kekuatan utama sebuah nasion yang baru merdeka, yaitu rakyatnya, dijadikan ‘floating mass’, massa mengambang yang tak punya kekuatan.
Jadi proses nation-building, character-building dan revolusi nasional masih belum selesai, seperti Sukarno sering menjelaskan sebelum tahun 1965.
 
Tetapi muncul pertanyaan lagi. Apakah negeri seperti Australia (negeriku sendiri), Amerika, Jepang dan negeri-negeri Eropa lainnya adalah nasion yang “finished” dan tuntas? Ini merangsang banyak pikiran lagi. Sesudah membaca banyak hal, saya teryakinkan akan definisi nasion sebagai sebuah KOMUNITAS yang punya KEHIDUPAN EKONOMI BERSAMA, BAHASA BERSAMA (bahasa yang sedemikian berkembang bisa menjadi landasan buat sebuah sastera nasional), BUDAYA BERSAMA (biarpun berkontradiksi didalamnya) yang hidup dalam sebuah wilayah yang jelas perbatasannya. Komunitas muncul dalam proses sejarah, yaitu ada munculnya dan awalnya, berkembang dan konsolidasinya, dan ada berakhirnya. Saya menjadi berkesimpulan bahwa semua aspek ini sudah betul2 terkonsolidasi di negeri-negeri “Barat” (baca ‘imperialis’) dan belum terkonsolidasi di Indonesia, apalagi sesudah 1965. Di Indonesia masih dalam proses. Kehidupan ekonomi di negeri Indonesia masih terbelah seolah-olah ada dua bangsa – yang kaya dan yang miskin. Bahasa nasional bahasa Indonesia sejarahnya belum menghasilkan situasi dimana rakyat banyak merasa memiliki sebuah sastra nasional yang dinikmati bersama. Budaya nasional – yang Sukarno sebut sebagai kepribadian atau character – masih dalam pertarungan idealisme lawan pragmatisme.
 
Kemudian apakah itu berarti negeri-negeri imperialis yang sudah “finished/tuntas” lebih superior daripada negeri-negeri dimana revolusi nasionalnya belum tuntas? Memang negeri-negeri imperialis ekonominya jauh-jauh lebih besar (kaya) berkat 200 atau 300 tahun bisa menyedot dari dunia koloni. Infrastruktur budaya – sekolah, sastera, science, industri buku – lebih berlimpah. Tetapi di zaman abad 21 ini kelihatan bahwa tanpa dinamika revolusi nasional dan nation-building dinamika PERADABAN “Barat” (negeri imperialis) justeru mandeg dan mulai merosot.
 
Terbentuk sebuah nasion tidak lebih daripada proses sejarah akibat munculnya kapitalisme. Bahwa negeri-negeri imperialis sudah selesai proses konsolidasi nasionnya tidak berarti dinamika kemajuan PERADABAN ITU SENDIRI akan lebih maju. BAHKAN karena keberhasilan proses konsolidasi nasion adalah hasil proses kolonial dan imperialis budayanya dan peradabannya mengandung elemen LEMAH yg DAHSYAT: munafik!
 
Liberty, fraternity dan equality untuk dirinya tapi tidak buat dunia yang dijajah, biarpun dunia itu sudah merdeka.
 
Negeri-negeri dan masyarakat barat/imperialis sekarang menghadapi tantangan: menjadi internasionalis – dan kembalikan hasil perampokan 200 tahun ke Dunia Ketiga dalam rangka membetulkan keadilan global dan bangun bersama dunia yang baru. Kalau tantangan ini tidak dihadapi dengan berhasil negeri imperialis akan mundur jadi barbarian. Tidak mungkin elit negeri imperialis akan pernah sadar hal ini, jadi ini tantangan buat rakyat pekerja di negeri imperialis dan kaum progressipnya sebagai pelaku perubahan kesadaran.
 
Sementara di negeri seperti Indonesia perjuangan dan pergulatan mentuntaskan revolusi nasional masih menunggu, termasuk kaum muda dan kaum rakyat pekerja harus mulai menganalisa arti dari REVOLUSI NASIONAL zaman sekarang. Dan sekarang perjuangan itu perlu nyambung dengan perjuangan rakyat di negeri imperialis yang dihadapi dengan tantangan bereskan peradaban di negerinya sendiri sekaligus merangkul internasionalisme dan bukan nasionalisme. (Nasionalisme negeri imperialis selalu butuh mangsa.)
 
Salah satu hal yang menjadi syarat mutlak untuk sebuah gerakan manapun mampu menganalisa langkah-langkah kedepan adalah harus mempelajari sejarahnya. Jangan sekali-sekali lupakan sejarah, kata orang. Saya berharap buku saya ini menyumbang sedikit pada upaya mempelajari sejarah Indonesia. Hanya satu buku, tetapi semoga bermanfaat.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s