Sajak yang belum sajak: dua renungan

Renungan spontan Mei 22 jam 1 pagi waktu Melbourne Hukum adalah palu cermin laba Serikat bergerak cermin tenaga otak otot Senyum falsu, bergigi putih tajam berkilat, mata melotot Peluk, tangan bergandengan, senyum mata bersinar, barisan ngotot Berseberangan, sudah tahu tujuan, berdiri tegak, tak perlu meraba-meraba +++++++++++++++++++ Masalah membeludak, cipta daya berbuat Jiwa muda menulis mementas […]

Sajak Bule Berkeringat

SAJAK BULE BERKERINGAT Keringat Kulit putih ternyata sangat berair Panas gila 70% tubuh terdiri dari air Cari ember Sebentar lagi aku ini seluruh mencair Kipas Juru selamat angin plus keringat jadi dingin Mandi Diseram air segar sejuk itu yang aku ingin Es Kopyor air kelapa tanpa gula – kepingin kepingin

Sajak Kuburan Santa Cruz

SAJAK KUBURAN SANTA CRUZ Debu batu kerikil jalan menggores-gores tubuh Darah mencat asfal jalan, keluar dari lobang dibuka peluru Wajah perih, mata nangis, otak marah, jiwa merana Jiwa menyatakan merdeka, asing buat mental tentara. Kuburan terima korban hidup hari itu di Santa Cruz yang tenang Kaos hanya pengantar keberanian bertekad: “Kita akan menang!” Wajah bicara […]

Sajak Starbucks Setiabudi Kuningan

SAJAK STARBUCKS SETIABUDI KUNINGAN Aroma kopi starbucks memanggil-manggil Tapi dengan loyo, seperti kental kopinya juga Dasi, rok rapi, bersih sejuk suasana tanpa ganjil. Tiada sandal jepit, wajah capek peminum, itu gampang diduga Berlindung dari alam bising pindah ke alam plastik asing.

Poem: Swept Clean Yard

Under the green canopy, dark, brown, damp, void of grass Yard to the little house, walls of woven bamboo, walls which will never last Swept to a cleanliness where not a single fallen leaf survives, Tidiness creates space in the midst of scarcity, so from tiredness the villager revives. Grey blackish here and there shiny […]

Poem: Walk to the mosque, 1969

Sharp, fragile bones under the coarse soft skin I help him along, this grandfather so thin Along a narrow, dusty asphalt lane dark houses on both sides We stop at the place where his heart fully, truly resides. His steps are slow and shuffling, but never does he falter Black bruises on his forehead declaring […]

Sajak mbah kakung dari kauman

Mbah Kakung dari kauman Tulangnya terasa keras dibawah kulitnya yg kasar lunak Dibopong menuju mesjid lewat gang sempit asfal berdebu “Mau ketemu semua temannya nanti di sorga, kan, ‘nak”? Memar hitam di jidutnya umumkan imannya yang menggebu. Langkah-langkahnya lamban tidak pasti tapi tak mengalah Hidung tua peka sangat dilindungi parfum tebal “Ikut ke sorga nanti […]

Sajak Tebet

Pulang malam, gang sepi, seekor tikus nyeberang jalan lari dengan gemuknya. Lampu luar nyala. Lampu kamar depan juga. Udaranya segar enak habis hujan. Nggak mau ketuk pintu, pakai aja kunci. Sepi di dalam. TV nyala tapi suaranya tidak keras. Ruang tengah gelap. Bunyi keyboard kedengaran dari ruang di belakang, di samping dapur. Ada aroma enak […]

Sajak rindu saat tidak serius

MEMORI LIDAH YANG KANGEN Nasi Kerawang Uap harum mengawang Nasi Rajawali Kepingin makan berkali-kali Kuning menyungai lekat ke piring Telor mata sapi diatas nasi goreng Sambal terasi pendamping emping Tambah kopi tubruk harus minum bareng-bareng. Bandung Sambal segar dari oeloek dimakan berlahapan Bandung Dipendam dengan lalapan. Gulai tak pedas tapi mengikat lezat Kambing santan cabe […]