Short poem: Cowardice
Silent, whizzing, spying, killing drone
Bombs dropping shock and awe, death and amputation
Cowards worship mammon, hearts of stone
Humanity defeating them will see them wither, dead, alone
Silent, whizzing, spying, killing drone
Bombs dropping shock and awe, death and amputation
Cowards worship mammon, hearts of stone
Humanity defeating them will see them wither, dead, alone
Kadang rindu akan orang
Kadang rindu akan suasana
Kemiskinan, kecapekan melarat merajalela
Kadang rindu akan perbuatan
Pollution dust, heat, grey gravel asphalt
Fumes, horns, engines jammed for miles
Splintery bench, watery soup with salt
sweat box home cramped with tired smiles
Strip lights sauna stitching fingers
Grinding machines cutting tin saw the brain
Aches, brain burn all day lingers
Child’s laugh, partner’s tear, a touch bears the strain.
Lovely music jangles the senses,
Every fashion label grates the soul
The malls from the other reality are our defences
Ten million souls minced in the urban black hole
Mengenang Chairil September 2010
Aku! penyair gembel itu berpikir
Merdeka bersyair di negeri dimana kemerdekaan keramat
Menghitung menjalankan hak adalah cara dia berzikir
Aku! dia wujudkan diri, cinta kebebasan sebagai semangat.
Bangkit bersatu-arah, semangat merdeka bikin api menyala,
Berjuang, melawan, berbicara, perbedaan visi bertarung,
Pidato, syair, lagu. novel dan slogan – kemerdekaan tidak kalah,
Bangsa baru cipta budaya baru – tak ternilai sebagai harta karun.
Semangat merdeka dikubur dalam-dalam bersama sejuta mayat
Kesunyian muram muncul penuh sejuta penghafalan bohong
Aku! dia teriak panik di tengah-tengah khaos mantra dan ayat,
Kita! dia menangis mencari bangsanya berkemerdekaan yang bolong.
Bung Karno! dia pernah bersyair
Mata yang tutup abadipun keluarkan air.
Merdeka atau Mati! demi bebas beribadah berbicara
Senjata dan pedang – bangsa sekarang punya cara.
Bukan hanya penyair mati muda
Kemerdekaan dibunuh oleh penguasa penghafal punya ludah
Satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air! Aku! Kita!
Percuma semua, kalau kemerdekaan oleh kehafalan disita.
(Melbourne, September, 2010)
BRUISED WITH BLACK
It was beaten up by lust for money
Once gleeming torquoise sunny
Now ruined on the corporate torture rack
Once blue, tis now bruised with black
Bashed and bashed its wealth was bled
If they had their way it would be left for dead.
Drill baby drill
oh what a thrill
oil slick
prize dick
“Give me my life back!”
A punch in the belly, and give him the sack.
Against them let us rail
then send the lot to work in jail
they kill the sea for the holy dollar
lucky we don’t give them a rope for a collar
who is to blame – both company and state
we better wake up and take back our fate
SAJAK PEGEL
punggung pegel
tubuh disegel
kepala sakit
pikiran harus kembali dirakit
mata berair pedas
penglihatan tak lagi bantu cerdas
mungkin hanya satu betul obat
dari malas olahraga harus bertaubat.
Life (maybe)
Money
Not funny
Debt
Eternal fret
Time
sold, no longer mine
Life
just strife
To live
an embrace, in love or struggle, to give
NO MORE CLASSES
they say there are no more classes
reality by them so easily passes
just catch a train between 5 and 8
see the millions hurrying home from the alienation they hate.
Recent Comments