SEKARANG TERSEDIA/NOW OUT: MALAPETAKA DI INDONESIA oleh MAX LANE
SEKARANG TERSEDIA/NOW OUT: MALAPETAKA DI INDONESIA oleh MAX LANE diterbitkan oleh Djaman Baru, hubungi: djamanbaroe@gmail.com
SEKARANG TERSEDIA/NOW OUT: MALAPETAKA DI INDONESIA oleh MAX LANE diterbitkan oleh Djaman Baru, hubungi: djamanbaroe@gmail.com
Reproduced from Journal of Contemporary Asia, Volume 41, Issue 3, 2011
Review by Prof James Peacock, University of North Carolina (Chapel Hill).
The simmering discontent throughout Indonesia regularly overflowed throughout October and November. There were student protests against the Yudhoyono government, attacking corruption, economic injustice and political manipulation of local government, in cities including Jakarta, Jogjakarta, Cirebon, Samarinda (in Borneo), Makassar, Surabaya and Kediri.
There were also demonstrations in Papua, after an incident in which police disbanded a political meeting in Jayapura, killing at least six people. Hundreds of others were arrested, ordered to strip to their shorts and made to squat in the sun for a long period. Days later demonstrations demanded a referendum on the region’s status, including an option for independence.

Pada Desember 10, seorang lelaki berumur 22 bernama Sondang Hutagalung meninggal dunia akibat 98% dari tubuh terbakar. Sulit membayangkan rasa sakit yang dideritakannya selama melawan maut di rumah sakit. Yang lain daripada yang lain, lelaki muda ini tidak kebakar dalam sebuah kecelakaan tetapi membakar diri.
Dia tidak meninggalkan sebuah surat yang menjelaskan niatnya dia tentang tindakan mengambil nyawanya sendiri dengan cara yang penuh penderitaan ini. Mungkin Sondang mau menunjukkan rasa cemasnya yang dalam bahwa sebagian besar rakyat Indonesia masih menderita kemiskinan. Sondang aktif di organisasi mahasiswa Himpunan Advokasi-Study Marhaenis Muda untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (Hammurabi). Dia juga memimpin komunitas Sahabat Munir. Dia membakar diri di depan Istana Kepresidenan, mungkin ingin mengatakan presiden Yudhoyono sebagai kepala pemerintahan yang “gagal mensejahterakan rakyat.” Mungkin juga dia terinspirasi oleh kasus seorang pedagang kaki lima Tunisia (Marhaen Tunisia) yang melakukan hal yang sama yang kemudian memicu pemberontakan oposisi di negeri tersebut, sehingga Presidennya jatuh.
Bisa saja terjadi – dan memang sudah terjadi – debat atau diskusi tentang benar atau salahnya tindaknya Sondang ini. Tetapi mengingat rekor kegiatan Sondang, minimal kita harus menghormati dia dan mengenangnya sebagai orang yang sanggup mengorbankan nyawanya dan menderitakan kesakitan fisik yang luar biasa dalam harapan bahwa ini akan berguna buat rakyat Indonesia.
Karena itu aku salut pada saudara Sondang, mahasiswa Universitas Bung Karno yang pernah gerak buat kaum marhaen dan korban pelanggaran HAM. Saya membaca juga bahwa dia pernah juga terlibat aktivitas solidaritas dengan rakyat Papua korban kekerasan. Sekali lagi salut!
Dinamika Menghadapi Kegagalan Mensejahteraan Rakyat
Di Morocco kasus orang membakar diri memicu sebuah pemberontakan oposisi yang massif. Di Indonesia belum jelas sepenuhnya bagaimana nanti dampak daripada tindakan Sondang. Teman-teman mahasiswanya dari UBK sudah mengaraknya ramai-ramai ke kuburan. Ada versi bahwa lagu DARAH JUANG yang didedikasikan ke Sondang. Universitas mengangkatnya dengan pemberian gelar kehormatan. Mahasiswa-mahasiwa menyatakan tekad untuk meneruskan perjuangannya Sondang melawan pimpinan hedonis. Simpati sangat meluas, meski juga ada yang mempertanyakan tindakannya sebagai perbuatan politik. Kita belum tahu sepenuhnya bagaimana warisan perbuatan dia ke depan. Read more…
Indonesia berdiri bukan karena todongan senjata tapi karena prinsip kesukarelaan.
ADALAH sebuah fakta di dalam sejarah bahwa sejarah selalu dimanfaatkan oleh semua pelaku politik di dalam masyarakat untuk membenarkan tingkah lakunya pada saat itu dan apa yang direncanakannya kemudian. Pada umumnya kelas sosial yang berkuasa juga menguasai bagaimana cara pengetahuan dan pengertian tentang sejarah diperkenalkan pada masyarakat, baik kepada kelasnya sendiri maupun bagi kelas-kelas lain di dalam masyarakat. Ada banyak sekali contoh, tetap buat saya contoh yang paling dahsyat ialah larangan kekuasaan Roma terhadap siapa pun untuk menulis sejarah pemberontakan budak yang dipimpin Spartacus, kecuali oleh “sejarawan” yang ditunjuk oleh penguasa sendiri. Dan itu memang terjadi, meskipun penelitian paling baru berhasil menemukan versi lain yang disimpan rakyat Italia dalam berbagai jenis bahasa etnisnya. Versi-versi terpendam semenjak berabad lalu dan harus menunggu hampir 2,000 tahun untuk ditemukan kembali.
Read MORE
PADA kolom “17 Agustus versus 1 Oktober” yang lalu diakhiri dengan pertanyaan: “memilih Indonesia versi 17 Agustus 1945 atau Indonesia versi 1 Oktober 1965?”. Di dalam tulisan tersebut saya berusaha berpendapat bahwa 17 Agustus adalah simbol revolusi nasional Indonesia (yang belum tuntas) dan 1 Oktober simbol kontra-revolusi 1965 yang melahirkan Orde Baru Suharto (OBS). Tetapi dengan melemparkan dua pilihan tersebut, mungkin pantas juga sedikit membahas apa itu Indonesia versi “17 Agustus”. Apalagi hal ini masalah sejarah dan masalah kontemporer yang sangat menarik, menantang dan membutuhkan banyak diskusi.
The following essay by Surya Anta was written in response to a series of questions, I emailed him yesterday, August 4, 2011.
“I am here to give solidarity, not as a provocateur”*
Surya Anta, Jakarta, Indonesia, member Peoples Liberation Party
On August 2, 2011 I and Kholis Annasir from the student group Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN – LIBERATION) attended a meeting to organize an action on the issue of Papua. The action was being organized by the West Papua National Committee (Komite Nasional Papua Barat – KNPB). We were invited to attend by Okto, the coordinator of the planned action. I was representing the Peoples’ Liberation Party (Partai Pembebasan Rakyat – PPR). I learned from the aksi coordinator after I was released that we were the only ones there providing political and organizational solidarity. Tommy from the human rights group Kontras was there to monitor the action.
.
Release all those detained and Stop on-going crackdown on Malaysian Socialists
Stop repressing democratic rights of Malaysian People!
Bebaskan mereka yang ditahan dan Hentikan Kekerasan terhadap kaum Sosialis Malaysia
Hentikan Represi terhadap Hak-hak demokratik rakyat Malaysia!
Read more…
Kolom baru tentang 1965 di Indonesia di Majahah-Historia.com
Recent Comments